Tampilkan postingan dengan label Rabies. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rabies. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Juni 2010

Korban Rabies di Mabar 144 Orang

Selasa, 22 Juni 2010
 
LABUAN BAJO, Pos Kupang.Com--Penyakit rabies (anjing gila) kembali terjadi di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar). Tercatat sejak Januari-Mei  tahun 2010, jumlah korban yang tertular virus rabies (anjing gila) berjumlah 144 orang.
Dari jumlah tersebut, salah satu di antara para korban meninggal dunia. Saat ini, jumlah korban yang ada sedikit menurun dibanding tahun 2009 yang jumlahnya sebanyak 216 orang korban.

Untuk mencegah penyebaran virus rabies tersebut, pemerintah setempat tengah melakukan kegiatan vaksinasi pada sejumlah hewan peliharaan penular rabies (HPR), yakni anjing, kucing dan kera.

Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Kabupaten Mabar, dr. Harijaya, melalui Kabid PMK, Makarios Ngganggur, menyampaikan hal ini ketika ditemui di ruang kerjanya, Senin (21/6/2010).

Makarios mengatakan, sejak tahun 2010 virus rabies kembali menelan korban. Umumnya penyebaran virus rabies terjadi pada wilayah yang dipadati hewan peliharaan milik masyarakat ini. Selain itu, juga karena banyaknya hewan peliharaan yang tidak diikat.

Dari data yang ada,  jelas Makarios, pada tahun 2009 dan 2010 korban rabies yang dirawat terbanyak di Puskesmas Labuan Bajo, Kecamatan Komodo.

Dia merincikannya,  pada tahun 2009 di Kecamatan Komodo sebanyak 96 orang yang terkena gigitan, di wilayah Kecamatan Sano Nggoang 26 orang, di wilayah Kecamatan Lembor 47 orang. Selain itu,  di wilayah Kecamatan  Kuwus 31 orang, di wilayah Boleng 6 orang. Sedangkan di Kecamatan Macang Pacar 10 orang korban gigitan. Total jumlah korban sebanyak 216 orang.

Dia menjelaskan, korban yang terkena gigitan pada tahun 2010,  di Kecamatan Komodo 51 orang, Sano Nggoang 21 orang, Lembor 31 orang, Kuwus 25 orang, Welak 3 orang, Boleng 9 orang dan di Kecamatan Macang Pacar berjumlah 4 orang. Total korban yang terkenan gigitan anjing sebanyak 144 orang.
Menurut Makarios, tingginya penyebaran virus rabies ini dikarenakan jumlah populasi anjing yang ada sangat banyak. Selain itu, kurangnya pencegahan pada daerah kasus yang dapat berdampak pada penyebaran virus anjing gila ini.

Terkait ketersediaan vaksin anti rabies (VAR) dia mengatakan, di Mabar masih ada 500 fiar  (ampul) VAR untuk pemakaian dosis  bagi 50 orang korban rabies.


Fokus desa/kelurahan
Ditemui di tempat terpisah, Kepala Seksi (Kasie) Produksi Ternak Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Mabar, Yustina H Lajar, mengatakan  untuk mencegah terjadinya penyebaran virus rabies, tim dari dinas melakukan vaksinasi  hewan peliharaan (HPR). Vaksinasi ini difokuskan pada wilayah-wilayah desa/kelurahan dalam Kota Labuan Bajo, Kecamatan Komodo.

Sementara untuk daerah kasusnya telah dieliminasi untuk mencegah terjadinya tambahan korban gigitan. "Kami masih lakukan vaksinasi untuk hewan peliharaan yang ada dalam kota. Untuk wilayah radius 10 km dari daerah, maka kasus langsung dieliminasi untuk mencegah penyebaran," kata Lajar.

Wilayah eliminasi antara lain Desa Warloka, Macang Tanggar, Tiwu Nampar, Desa Golo Pongkor. "Tindakan vaksinasi ini dilakukan lebih awal karena tingginya kasus rabies yang terjadi dalam tahun 2010 ini," jelasnya.

Seperti disaksikan Pos Kupang, Senin (21/6/2010), tim dari Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Mabar melakukan vaksinasi di wilayah Kota Labuan Bajo.

Petugas langsung mendatangi rumah warga yang memiliki anjing kemudian divaksinasi. Sedangkan pemilik hewan yang sulit divaksin langsung dibuat surat pernyataan bersedia dilakukan eliminasi terhadap HPR miliknya. (cc)

Rabu, 23 Juni 2010

Lia dan Gulung Jadi Desa Contoh Anti Rabies

Selasa, 22 Jun 2010

Desa Lia dan Desa Gulung, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai merupakan wilayah yang bebas dari penyakit rabies. Pasalanya, di dua desa tersebut saat ini tidak ada populasi hewan penular rabies (HPR).

Warga sangat komitmen membebaskan wilayah desa tersebut dari penyakit rabies. "Desa Lia dan Gulung bisa menjadi contoh bagi desa dan kelurahan lain di Manggarai. Aparat dan warga desa tersebut berkomitmen tinggi untuk menghilangkan penyakit mematikan rabies. Cara yang mereka lakukan adalah dengan mengeliminasi total HPR yang ada. Dan buktinya tidak ada anjing atau sejenisnya di desa tersebut," kata Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Manggarai, Yoseph Mantara kepada koran ini, Senin (21/6).

Mantara mengatakan, Kabupaten Manggarai sudah tergolong daerah endemik rabies. Buktinya korban rabies selalu bertambah dari waktu ke waktu. Korban gigitan pun setiap hari selalu ada. Namun, kesadaran masyarakat belum maksimal karena tidak mengindahkan peraturan yang ada. "Kalau ada anjing harus diikat, jangan dilepas bebas saja," katanya.

Ia menjelaskan, Desa Lia dan Gulung di Kecamatan Satar Mese Barat patut dijadikan contoh bagi desa dan keluarahan lain di Manggarai. Hal ini karena di dua desa tersebut masyarakat dan aparat mempunyai komitmen yang tinggi untuk membebaskan wilayah dari penyakit rabies yang disebarkan melalui hewan penular rabies.

Bahkan warga bersama aparat desa mempunyai kesepakatan bersama untuk mengeliminasi tuntas anjing yang ada di kampung tersebut serta bersepakat untuk tidak memelihara anjing. "Jika ada harus dikandangkan," ujarnya.

Mantara juga menjelaskan, pihaknya sudah mengecek langsung di dua desa itu dan hasilnya benar tidak ada anjing di dua desa tersebut. Menurut pengakuan warga setempat, katanya, warga trauma dengan kasus gigitan seekor anjing rabies di wilayah itu yang menggigit enam orang.

"Mereka trauma kasus tahun 2007 lalu dimana seekor anjing rabies menggigit enam orang dalam satu hari," katanya. Karena itu, dia mengharapkan desa dan kelurahan lain di Manggarai bisa mengikuti teladan warga Desa Lia dan Gulung. Sebab salah satu jalan agar masyarakat tidak menjadi korban rabies adalah dengan cara mengeliminasi secara total HPR.

Dikatakan juga, dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan vaksinasi HPR secara besar-besaran. Hal ini dilakukan sebagai langkah pencegahan terhadap penularan rabies. Semua HPR disuntik dan vaksin anti rabies untuk HPR telah disiapkan dengan jumlah banyak sesuai populasi HPR yang ada di Manggarai.

Pantauan koran ini, di Ruteng jumlah anjing bisa mencapai ribuan ekor. Kasus gigitan anjing sangat tinggi yang dilihat dari jumlah yang berobat ke RSUD Ruteng untuk mendapat suntikan VAR. Pada Minggu (20/6), seorang anak SD dari Kelurahan Karot digigit seekor anjing dan sempat berobat ke RSUD Ruteng namun gagal mendapatkan suntikan VAR. "Anak saya tidak mendapat suntikan VAR, katanya habis," ujar Meliana, ibu korban. (kr2)

Rabu, 16 Juni 2010

Rabies di Ngada Makan Korban

Selasa, 15 Jun 2010

BAJAWA, Timex-Yohanes Donbosko Bira, warga Desa Boba Baru Kecamatan Golewa akhirnya menghembuskan nafas terakhir di Ruangan Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Bajawa setelah digigit anjing rabies bulan lalu.

Korban masuk di RSUD Bajawa, Sabtu (13/6) dalam kondisi yang sangat parah. Setelah dirawat 20 menit, korban langsung menghembuskan nafas terakhir.

Direktur RSUD Bajawa, Aty Due yang ditemui Timor Express, Senin (15/6) membenarkan anak berusia enam tahun itu meninggal karena gigitan anjing rabies. Korban masuk sekira pukul 14.00 Wita dalam kondisi yang parah. Setelah dirawat beberapa menit kemudian langsung menghembuskan nafas terakhir.

Informasi yang disampaikan orangtua korban kepada petugas rumah sakit, Yoahens Donbosko pernah digigit aning rabies di kampung halamannya di Maumbawa Desa Boba Baru. Korban digigit di kaki kanan kanan hingga mengeluarkan darah. Gejala yang dirasakan korban dari mulut mengeluarkan air liur berbusa dan sering kejang-kejang. Jenasah korban langsung dibawa ke rumah duka untuk dimakamkan.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada, Hilgardis Bhoko dalam rapat kordinasi penanggulangan kejadian luar biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue (DBD) dan rabies Kabupaten Ngada yang berlangsung Senin (15/6) mengatakan sejak beberapa tahun terakhir penyakit rabies dan DBD telah menjadi perhatian pemerintah dalam upaya pemberantasannya. Namun, belum menunjukan hasil yang optimal.

Karena hingga saat ini masih ditemukan banyak kejadian yang berhubungan dengan kasus DBD dan rabies. Khusus untuk kasus gigitan anjing rabies di Ngada, jelas Bhoko, sejak tahun 2008 terdapat 205 kasus. Tahun 2009 sebanyak 329 kasus dan sampai dengan Mei 2010 terdapat 96 kasus. Dari data ini menunjukan kasus rabies merupakan masalah serius yang harus ditangani secara tepat.

"Penanggulangan rabies harus dilakukan secara intergral dan bersama-sama antara pemerintah dan masyarakat untuk melakukan pencegahan. Upaya penanggulangan rabies dapat dilakukan melalui pemberian vaksin dan pengendalian hewan penularan rabies (HPR)," jelas Bhoko.

Ia mengatakan, upaya pencegahan harus dilakukan secara terus-menerus untuk membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya keberhasilan lingkungan. Karena dengan lingkungan bersih maka berbagai penyakit dapat dihindari. Berkaitan dengan upaya pencegahan terhadap penyakit rabies harus lebih mengarah pada kegiatan kongkrit yang berpihak kepada rakyat. (teo)

Selasa, 15 Juni 2010

Rabies di Ngada Makan Korban

Selasa, 15 Jun 2010
BAJAWA, Timex-Yohanes Donbosko Bira, warga Desa Boba Baru Kecamatan Golewa akhirnya menghembuskan nafas terakhir di Ruangan Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Bajawa setelah digigit anjing rabies bulan lalu.

Korban masuk di RSUD Bajawa, Sabtu (13/6) dalam kondisi yang sangat parah. Setelah dirawat 20 menit, korban langsung menghembuskan nafas terakhir.

Direktur RSUD Bajawa, Aty Due yang ditemui Timor Express, Senin (15/6) membenarkan anak berusia enam tahun itu meninggal karena gigitan anjing rabies. Korban masuk sekira pukul 14.00 Wita dalam kondisi yang parah. Setelah dirawat beberapa menit kemudian langsung menghembuskan nafas terakhir.

Informasi yang disampaikan orangtua korban kepada petugas rumah sakit, Yoahens Donbosko pernah digigit aning rabies di kampung halamannya di Maumbawa Desa Boba Baru. Korban digigit di kaki kanan kanan hingga mengeluarkan darah. Gejala yang dirasakan korban dari mulut mengeluarkan air liur berbusa dan sering kejang-kejang. Jenasah korban langsung dibawa ke rumah duka untuk dimakamkan.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada, Hilgardis Bhoko dalam rapat kordinasi penanggulangan kejadian luar biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue (DBD) dan rabies Kabupaten Ngada yang berlangsung Senin (15/6) mengatakan sejak beberapa tahun terakhir penyakit rabies dan DBD telah menjadi perhatian pemerintah dalam upaya pemberantasannya. Namun, belum menunjukan hasil yang optimal.

Karena hingga saat ini masih ditemukan banyak kejadian yang berhubungan dengan kasus DBD dan rabies. Khusus untuk kasus gigitan anjing rabies di Ngada, jelas Bhoko, sejak tahun 2008 terdapat 205 kasus. Tahun 2009 sebanyak 329 kasus dan sampai dengan Mei 2010 terdapat 96 kasus. Dari data ini menunjukan kasus rabies merupakan masalah serius yang harus ditangani secara tepat.

"Penanggulangan rabies harus dilakukan secara intergral dan bersama-sama antara pemerintah dan masyarakat untuk melakukan pencegahan. Upaya penanggulangan rabies dapat dilakukan melalui pemberian vaksin dan pengendalian hewan penularan rabies (HPR)," jelas Bhoko.

Ia mengatakan, upaya pencegahan harus dilakukan secara terus-menerus untuk membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya keberhasilan lingkungan. Karena dengan lingkungan bersih maka berbagai penyakit dapat dihindari. Berkaitan dengan upaya pencegahan terhadap penyakit rabies harus lebih mengarah pada kegiatan kongkrit yang berpihak kepada rakyat. (teo)