Tampilkan postingan dengan label Konflik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konflik. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Juli 2010

Siswa Alor Tewas Tertancap Panah

SENIN, 5 JULI 2010


KALABAHI, POS KUPANG.Com -- Syamsul, siswa MAN Kalabahi, tewas tertancap panah di atas mata kanannya saat terjadi bentrok antar warga dua desa di Kecamatan Alor Barat Laut (Abal), Minggu (4/7/2010). Korban adalah warga Desa Alor Kecil.

Pemicu utama bentrok berdarah itu masih belum jelas. Informasi yang dihimpun Pos Kupang di Kalabahi, sempat terjadi tuding-menuding antar warga Alor Kecil dengan warga Desa Dulolong saat terjadi tabrakan yang menewaskan seorang warga Alor Kecil.

Kapolsek Abal, Aiptu  Onan Ndolu mengatakan, pada hari Minggu pagi terjadi bentrok terbuka antar warga kedua desa. Warga saling berhadap-hadapan, saling lempar dengan batu dan saling panah. Mereka juga mempersenjatai diri dengan senjata tajam lainnya.

Menurut Kasatreskrim Polres Alor, Iptu Anton Mengga, awalnya ada kasus tabrakan di Dulolong yang menewaskan seorang warga Alor Kecil. Kemudian muncul isu bahwa korban yang tewas itu akibat dipukul oleh warga Dulolong. Beberapa waktu kemudian, ada kondektur asal Dulolong dipukul di Alor Kecil.

Kini, aparat Polres Alor sudah melakukan pengamanan ketat di dua desa itu. Camat Abal, Ade Dharma Massa meminta warga kedua desa menahan diri dan menyerahkan penyelesaian masalah itu kepada aparat pemerintah. 

Wakil Bupati Alor, Drs. H. Jusran M Tahir kepada wartawan di rumah jabatannya, tadi malam, mengatakan pemerintah sudah melakukan pertemuan bersama muspida untuk menyikapi persoalan itu. Dalam rapat muspida, Bupati Alor menugaskan Sekab Alor, Drs. Seprianus Datemoly untuk melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat (tomas) Dulolong untuk datang ke Rujab Bupati guna membahas masalah yang terjadi. Sedangkan Kepala Badan Kesbangpol dan Linmas Kabupaten Alor, Viktor Imang ditugaskan untuk melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat Desa Alor Kecil untuk maksud yang sama.

Irianto Imang mengatakan sudah menjemput tokoh tomas Alor Kecil, demikian pula Sekab Datemoly telah membawa tomas dari Dulolong untuk membahas masalah tersebut bersama Muspida.

Salah satu poin yang dibahas adalah mengenai  jenazah korban bentrokan agar bisa dibawa dari Kalabahi ke Alor Kecil. Sebab, korban dilarikan ke RSUD Kalabahi dan meninggal dunia di rumah sakit itu.

Informasi yang dihimpun di RSUD Kalabahi, setelah korban Syamsul terkena anak panah, dia dilarikan ke puskesmas di desa itu namun kondisinya kritis sehingga dengan sebuah perahu motor, korban diantar ke RSUD Kalabahi dengan kondisi anak panah masih tertancap di dahinya.

Sampai di RSUD Kalabahi, anak panah berhasil dicabut oleh petugas medis, namun korban meninggal dunia sekitar pukul 18.00 Wita, kemarin. Jenazah korban diantar oleh Bupati Alor, Muspida, keluarga dan kerabat melalui jalan darat ke Desa Alor Kecil setelah dilakukan pertemuan bersama antara bupati, wabup, Ketua DPRD,  Minggus Mallaka, Kapolres Alor, AKBP Andi Harsito, Dandim 1622 Alor, Letkol Syahrisal Siregar, Ketua PN Kalabahi, Firman, S.H dan Kasi Pidsus Kejari Kalabahi, Sudarto, S.H, Kades Alor Kecil, Jasin Arkiang, Kades Dulolong, Darwin Duru serta tokoh masyarakat dari dua desa itu.

Tidak Boleh Ada Gejolak
Bupati Alor, Drs. Simeon Th. Pally meminta kepala desa dari dua desa yang bertikai itu agar mengamankan situasi di desanya masing-masing. Sedangkan proses hukum terhadap pemicu bentrokan maupun bentrokan yang menelan korban itu tetap dilakukan.

"Mulai malam ini hingga ke depan, tidak boleh ada gejolak. Jika ada gejolak, maka pemerintah akan bersikap tegas," tandas Pally.

Pally minta kepala desa dan para tomas agar membantu polisi untuk menangkap pelaku untuk menjalani proses hukum. 

Dia mengatakan, masalah tersebut juga akan diselesaikan secara adat dan dia menunggu kepastian waktu dari kedua kepala desa.

Kapolres Andi Harsito juga mengharapkan bantuan kepala desa, para tomas serta warga untuk membantu polisi menegakkan hukum dan menjaga keamanan. Dia meminta agar pemicu persoalan itu dibawa ke polisi agar diproses hukum.
 
"Jangan sampai hanya karena satu orang punya masalah lalu semuanya terganggu," tegas Harsito.

Dia juga meminta warga kedua desa menahan diri dan jangan menyelesaikan persoalan dengan cara sendiri. (oma)

Bentrok di Alor, Satu Warga Tewas

SENIN, 05 JUL 2010
Antara Alor Kecil dan Dulolong

KALABAHI, Timex - Warga kota Kalabahi digegerkan dengan peristiwa pertikaian dua desa yakni Alor Kecil dan Dulolong Kecamatan Alor Barat Laut. Pertikaian terjadi sejak, Jumad (2/7) berlanjut hingga, Minggu (4/7). 

Dalam pertikaian itu, Muhammad Samsul (17) siswa kelas 2 MAN Kalabahi, warga Alor Kecil tewas terkena panah saat melakukan penyerangan ke wilayah Dulolong, sekira pukul 09.00 Wita, Minggu (4/7).

Muhammad terkena panah di wajah. Muhammad saat itu sempat dibawa ke unit gawat darurat (UGD) RSUD Kalabahi untuk mendapat perawatan medis, namun Muhammad meninggal dalam perjalanan menuju RSUD. Sekira pukul 14.00 Wita, Muhammad sudah tidak bernyawa lagi. 
Aparat Polres Alor turun mengamankan kondisi kedua kampung dibawah pimpinan Kabag OPS, AKP Giarto dan Kasatreskrim, Iptu Anthonius Mengga. Walau sudah ada aparat Polres Alor di lokasi kejadian, namun situasi masih tetap tegang. Warga dua wilayah masih tetap berjaga-jaga.

Kapolsek Alor Barat Laut, Aipda Onan Ndolu kepada Timor Express di Dulolong mengatakan, saat itu Muhammad bersama sekira 46 orang lainnya dari Alor Kecil menuju Dulonlong. Tiba di Folboa, persis di Papajahi mendapat perlawanan dari warga Dululong. Padahal, menurut Kapolsek, persoalan yang terjadi sementara dalam proses perdamain dan kedua kepala desa dan tokoh masyarakat sepakat untuk berdamai.

Dikatakan, aparat kepolisian malam itu turun langsung di dua lokasi untuk mengamankan bentrokan dan sempat teredam. Namun, puncak kejadiannya kembali terjadi, Minggu (4/7) pagi tiba-tiba sekelompok pemuda dari Alor Kecil melakukan penyerangan. Akhirnya terjadi korban jiwa.

Terpisah, Wakil Bupati Alor, Jusran M Tahir mengatakan, sesuai informasi yang diperoleh, kejadian itu bermula dari rentetan kecelakaan dan sejumlah persoalan lainnya. “Karena itu, untuk masalah ini kita minta kedua orangtua kampung agar bisa kondisikan secara damai,” pintanya.

Dikatakan, terkait persoalan yang terjadi, pihak kepolisian sudah punya data untuk menangkap para pelaku bentrokan. “Tetapi yang kita lakukan sekarang ini yakni pendekatan kedua orangtua baik yang ada di Alor Kecil maupun yang ada di Dulolong,” katanya.

Terkait kasus tersebut, Bupati Alor, Simeon Th Pally melakukan rapat Muspida dan pertemuan dua kepala desa serta tokoh masyarakat dua Kampung di rumah jabatan bupati Alor.
Pada kesempatan itu, Bupati Simeon mengatakan, kedua kepala desa dan tokoh masyarakat harus bertanggungjawab mengamankan situasi karena tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan.

Dikatakan, dua kampong itu adalah kakak beradik. Karena itu, persoalan yang terjadi harus diamankan karena jalan yang ada merupakan kepentingan umum dan tidak boleh dihambat. Jika kedua warga menghambat, maka atas dasar itu pemerintah mengambil langkah pengamanan. Kepada kedua kepala desa Alor Kecil dan Dulolong agar bisa mengamankan warganya. “Jika kedua kepala desa gagal dalam mengamankan kondisi ini, maka jelasnya bupati yang gagal,” ujar Simeon.

Dihadapan kedua tokoh masyarakat, Simoen meminta, jika tidak ada kesadaran dari masyarakat, maka pemerintah akan mengambil secara tegas demi kepentingan umum yakni langkah darurat. Usai pertemuan, kepala Desa Alor Kecil, Jasing Arkiang dan kepala Desa Dulolong, Darwin Duru menandatangani surat pernyataan pengamanan dihadapan bupati, ketua DPRD dan Muspida Kabupaten Alor.

Simeon juga meminta kepada kedua warga yang ada agar persoalan yang terjadi tidak boleh dilakukan hingga anak cucu, karena telah melanggar janji lelulur. 
Kapolres Alor, AKBP Andi Harsito mengatakan, persoalan yang terjadi terhadap orang per orang tidak boleh libatkan keluarga. Tetapi kalau terjadi atas diri sesorang, maka lebih baik laporkan ke pihak kepolisian.

Kepada kedua kepala desa dan tokoh masyarakat, Kapolres meminta agar jangan sembunyikan pelaku, tapi menginformasikan ke pihaknya atau mengantar ke Polres untuk penegakan hukum. Sehingga, tidak mengganggu masyarakat sekitar. 

“Persoalan sebesar apapun jika dikomunikasikan, maka bisa selesai. Tapi kalau persoalan kecil tanpa ada koordinasi, maka akan bertambah besar seperti terjadi korban saat ini,” ujar Kapolres. Usai rapat sekira pukul 17.30 Wita, korban Muhammad diantar langsung bupati dan rombongan ke Alor Kecil mengunakan jalan darat melewati Dulolong ke Alor Kecil untuk dimakamkan. Semua biaya pemakaman di tanggung pemerintah Kabupaten Alor. (kr6)

Rabu, 30 Juni 2010

Warga Nansean Protes Pemekaran Desa Oetuen

SELASA, 29 JUN 2010

KEFA, Timex - Rencana pemekaran Desa Nansean menjadi Desa Oetuen mendapat reaksi warga desa setempat. Senin (28/6), ratusan warga Desa Nansean dengan menumpang dua unit truk mendatangi kantor bupati TTU dan DPRD TTU.

Mereka mengajukan protes terhadap rencana pemerintah untuk meresmikan desa pemekaran Oetuen. Pasalnya, rencana pemekaran desa dimaksud syarat dengan berbagai persoalan baik aturan formal maupun nonformal.

Persoalan yang mencuat dari rencana pemekaran Desa Oetuen dari Desa Nansean sebagai desa induk terungkap saat warga dan para tokoh adat, tokoh masyarakat Desa Nansean mengajukan protes di kantor bupati dan gedung kantor DPRD TTU kemarin siang.

Ratusan massa yang dikoordinir kepala Desa Nansean, Yohanes Ua dan tokoh adat Naibobe, Silfester Atini Naibobe dalam pernyataan sikapnya menilai, rencana pemekaran Desa Oetuen melangkahi Permendagri Nomor 26/2006 dan Perda Kabupaten TTU Nomor 2/2008 tentang pembentukan, penghapusan, penggabungan dan perubahan status desa menjadi kelurahan.

Dijelaskan, sesuai fakta lapangan, rencana pemekaran Desa Oetuen tidak memenuhi syarat jumlah kepala keluarga yaitu 75 KK maupun jumlah jiwa 750 orang yang harus dimiliki sebuah desa pemekaran. Dijelaskan, jumlah KK desa pemekaramn Oetuen saat ini 69 KK dengan jumlah jiwa 269 orang. Selain itu, proses pemekaran Desa Oetuen tidak melalui mekanisme aturan seperti usulan dari kepala desa induk dan bertentangan dengan sosial budaya dan adat istiadat masyarakat Nansean.

Tidak hanya itu, rencana pemekaran Desa Oetuen cenderung menimbulkan konflik horisontal yang justru mengganggu keutuhan masyarakat di wilayah Desa Nansean.
Lebih dari itu, rencana pemekaran Desa Oetuen hingga saat ini belum memiliki batas wilayah teritorial yang tegas dengan desa-desa tetangga.

Massa juga mempertanyakan komitmen pemerintah Kabupaten (Pemkab) TTU khususnya BPMD Kabupaten TTU untuk menegakan Permendagri Nomor 26/2006 dan Perda Kabupaten TTU Nomor 2/2008 tentang pembentukan, penghapusan, penggabungan dan perubahan status desa menjadi kelurahan. (ogi)

Dance Ndun Tewas Tertembak

RABU, 30 JUN 2010,

KUPANG,Timex-Kapolres Kupang, AKBP Dadang Suhendar, yang dikonfirmasi melalui Kasat Reskrim Polres Kupang, AKP Ampy Von Bolouw, terkait insiden penembakan yang menewaskan Dance Ndun, membenarkan kejadian itu.
"Benar ada insiden penembakan yang diduga dilakukan oleh Purwanto Tedjobroto (25), hingga Dance Ndun tewas," ujarnya. Ditambahkan, saat ini, insiden maut itu masih dalam penyelidikan pihaknya, untuk mengetahui sebab musabab, hingga terjadi penembakan yang merenggut nyawa Dance Ndun "Kita masih selidiki kasus tersebut, untuk mengetahui apa penyebab hingga terjadi penembakan," paparnya. 

Jika dalam penyelidikan ada bukti hukum yang kuat, maka pihaknya akan meningkat ke penyidikan. "Kita tunggu hasil penyelidikan, dengan memeriksa saksi-saksi. Jika ada kuat dugaan terjadi penembakan oleh Purwanto Tedjobroto, maka akan ditingkatkan status kasus dari penyelidikan menjadi penyidikan sekaligus menetapkan tersangka," ungkapnya. 

Ditanyai apakah korban tertembak, ia mengatakan dugaan sementara tertembak senapan, namun semua masih dalam penyelidikan. Terpisah, informasi yang berhasil dihimpun koran ini menyebutkan, Purwanto, yang adalah warga RT 04/RW 02, Kelurahan Lasiana, bersama rekan-rekannya, juga Dance Ndun, pergi berburu musang di Tilong.

Korban diajak oleh rekan Purwanto, bernama Mas Agus. Saat menuju tilong, korban membawa senter, sementara Purwanto membawa senapan angin. Namun belum diketahui penyebab utama, penembakan yang diduga dilakukan oleh Purwanto.

Masih berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun koran ini, korban terkena tembakan pada bagian dada kiri. Pantauan koran ini di rumah sakit Bhayangkara Kupang, korban telah terbujur kaku. Terlihat pihak kepolisian sedang melakukan visum et repertum, untuk memastikan penyebab kematian Dance Ndun.(lok/mg-9)

Minggu, 27 Juni 2010

Dua Kelompok Pemuda Berdamai

Rabu, 23 Juni 2010
KUPANG, POS KUPANG.Com -- Kelompok pemuda Dusun III Desa Baumata Barat, Kabupaten Kupang dan kelompok pemuda RW 3 Kelurahan Penfui, Kota Kupang, mengakiri pertikaian dengan membuat pernyataan damai. Acara perdamaian berlangsung di kampus STIKES Maranatha Kupang, Senin (21/6/2010).

Dua kelompok pemuda menandatangani pernyataan damai. Dari pemuda Dusun III Desa Baumata Barat diwakili Ketua Yayasan STIKES Maranatha, Semuel Selan. Sementara kelompok pemuda Penfui diwakili ketua kelompoknya. Bertindak sebagai saksi, Lurah Penfui, Yuven Beribe dan Kepala Desa Baumata Barat, Yosias Aluman. Ikut menyaksikan, aparat kepolisian dan TNI Kecamatan Maulafa, tokoh masyarakat dan tokoh agama dari Kampung Nasipanaf, Kelurahan Penfui dan Desa Baumata Barat.

Yuven Beribe mengatakan, peristiwa pertikaian hendaknya dijadikan bahan refleksi bagi semua pihak. "Dengan peristiwa ini kita secara langsung didewasakan dan secara pribadi kita diuji untuk berjiwa besar menyelesaikan persoalan ini," kata Beribe.  Menurutnya, penandatangan surat pernyataan damai bukan hanya seremoni belaka tetapi harus disikapi secara positif untuk membangun relasi dan simpati yang lebih tinggi dalam membina hubungan antar sesama.

"Mari kita bangun relasi dan komunikasi serta suasana kondusif. Bangun rasa simpati dan empati yang lebih tinggi untuk  mendapatkan kedamaian bersama. Adanya rasa damai artinya ada rasa tanggungjawab moril untuk saling melindungi," katanya.

Sementara, Semuel Selan mengatakan, setelah penandatangan pernyataan damai, kedepannya diharapkan dua kelompok pemuda menjalin hubungan lebih mesrah.

"Pemuda harus melihat peristiwa ini bukan hanya sekedar tandatangan konsep belaka tetapi perlu adanya kesadaran dan pemahaman dari isi hati yang tulus agar tidak terulang lagi peristiwa yang sama," kata Selan.

Kepala Desa Baumata Barat, Yosias Aluman mengatakan para pemuda harus bisa menunjukkan sikap yang baik terhadap semua orang. Jangan melihat orang lain sebagai musuh tetapi  harus melihat orang lain sebagai saudara. "Bersikaplah yang baik terjadap semua orang dan sebaliknya," katanya.

Tokoh masyarakat Kampung Nasipanaf, Siprianus Radho Toly mengatakan, pemuda perlu membangun kebanggaan kolektif dengan semua orang dengan berbuat hal-hal yang positif. "Berilah respon yang positif kepada semua orang. Dengan adanta respon positif akan  tercipta rasa kedamaian dan kebersamaan. Jadikan peristiwa ini sebagai moment reflektif bagi kita semua," ujar Toly mengingatkan. (den)  

Polisi Tangkap Penggerak Bentrokan di Oesapa

Senin, 8 Maret 2010
 
 
Adrianus Ongko (kanan) dikawal polisi di dermaga pelabuhan feri Bolok-Kupang untuk mengecek pelaku lainnya yang hendak melarikan diri menggunakan kapal feri, Sabtu (6/3/2010).





Kepala Kepolisian Resor Kota (Kapolresta) Kupang, AKBP Heri Sulistianto, kepada wartawan di Markas Polresta Kupang, Sabtu (6/3/2010), menjelaskan, aparat kepolisian menangkap Adrianus Ongko di Oesapa.   Selain menangkap Adrianus Ongko, lanjut Heri, polisi juga telah  mengamankan 13 orang pemuda. "Sudah belasan orang kita aman untuk dimintai keterangan. Belum ada tersangka," tambahnya.

Heri mengatakan, pihak kepolisian belum mengetahui pasti motif bentrokan yang menewaskan Fredrikus LS Nenon Nahak (23), mahasiswa asal Kabupaten Belu. "Kita masih mendalami proses penyidikan kasus itu," ujarnya.

Heri menjelaskan, polisi mendapat informasi dari  Adrianus Ongko, bahwa pelaku lainnya akan melarikan diri ke Alor menggunakan kapal feri.  Menyikapi informasi dari Adrianus Ongko, demikian Heri, aparat kepolisian melakukan sweeping di Kapal Motor Penyeberangan (KMP)/Kapal Feri Cucut yang hendak berangkat  menuju Kalabahi, Alor, Sabtu (7/3/2010).

Setelah 45 menit pemeriksaan di kapal feri, kata Heri, tidak ditemukan satu orang pun pelaku bentrokan. "Tadi (Sabtu kemarin) dia mengaku kepada kita bahwa ada pelaku di atas kapal feri yang hendak ke Alor, sehingga kita kejar ke Bolok," kata beberapa  anggota Polresta Kupang kepada Pos Kupang di Bolok.
Informasi yang diperoleh Pos Kupang menyebutkan, bentrokan di Oesapa pada Sabtu dinihar merupakan buntut dari peristiwa perkelahian antar-mahasiswa dalam suatu acara pesta wisuda di salah satu rumah warga di Oesapa, Sabtu (6/3/2010). Dalam kejadian itu salah seorang mahasiswa menderita luka akibat tikaman senjata tajam yang dilakukan sesama mahasiswa.

Diberitakan (Pos Kupang, 7/3/2010), satu orang tewas dan dua orang lainnya sekarat dalam bentrokan dua kelompok warga di Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, Sabtu (6/3/2010) pukul 03.30 Wita hingga pukul 05.30 Wita.

Warga yang meninggal dunia bernama Fredrikus LS Neno Nahak (23), asal Kabupaten Belu. Fredrikus meninggal dunia  terkena anak panah  dalam bentrokan tersebut. Ia tinggal  di Kos Bogenvile di Jalan Suratin, Oesapa. Dua korban yang sekarat, yakni Yohannis Bira, dan Kristian Umbu Ledo. Hingga pukul 12.00 Wita Sabtu kemarin, pada pinggang kiri Yohannis masih tertancap anak panah. Sedangkan Umbu Ledo terkena panah pada betis kiri. Bentrokan itu juga menyebabkan tiga rumah semi permanen ludes  dibakar. Selain itu, lima unit sepeda motor milik mahasiswa yang menempati kamar kos di Kos Bogenvil juga ludes dibakar.  

Dalam bentrokan itu puluhan orang yang datang memakai cadar di bagian wajah. Mereka membawa senjata tajam seperti parang, anak panah dan kelewang langsung mengobrak-abrik 19 kamar kos yang ditempati mahasiswa. Para pelaku juga membakar lima unit sepeda motor milik mahasiswa setempat. Ketua Asrama Bogenvile, Yos Malo (29), mengatakan, para pelaku melempar dan merusak kaca-kaca jendela menggunakan parang dan batu sehingga susana sangat mencekam.  (ben)

Kamis, 24 Juni 2010

Bentrokan di Oesapa: Satu Tewas, Dua Sekarat

Senin, 8 Maret 2010
Tiga Rumah dan Lima Sepeda Motor Dibaka
 
POS KUPANG/OBBY LEWANMERU
Yohanis Bira, warga asal Sumba Barat yang menjadi korban pertikaian di Oesapa. Tampak anak panah masih menancap pada bagian kiri pinggang korban ketika dirawat di UGD RSUD Kupang, Sabtu (6/3/2010)

 
 
Warga yang meninggal dunia bernama Fredrikus LS Neno Nahak (23), asal Kabupaten Belu. Fredrikus meningga terkena anak panah  dalam bentrokan tersebut. Ia tinggal  di Kos Bogenvil di Jalan Suratin, Oesapa. Dua korban yang sekarat, yakni Yohannis Bira, dan Kristian Umbu Ledo. Hingga pukul 12.00 Wita Sabtu kemarin, pada pinggang kiri Yohannis masih tertancap anak panah. Sedangkan Umbu Ledo terkena panah pada betis kiri.
Bentrokan itu juga menyebabkan tiga rumah semi permanen ludes  dibakar. Selain itu, lima unit sepeda motor milik mahasiswa yang menempati kamar kos di Kos Bogenvil juga ludes dibakar.
Dalam bentrokan itu puluhan orang yang datang memakai cadar di bagian wajah. Mereka membawa senjata tajam seperti parang, anak panah dan kelewang langsung mengobrak-abrik 19 kamar kos yang ditempati mahasiswa. Para pelaku juga membakar lima unit sepeda motor milik mahasiswa setempat. Dalam bentrokan itu, Fredrikus LS Neno Nahak (23), tewas terkena panah.
Ketua Asrama Bogenvil, Yos Malo (29), mengatakan, para pelaku melempar dan merusak kaca-kaca jendela menggunakan parang dan batu sehingga susana sangat mencekam. "Kami tidak bisa keluar dari dalam kamar karena para pelaku begitu beringas merusak dan melepar kamar-kamar dengan menggunakan batu.  Kami lebih memilih mengurung dalam kamar," ungkap Yos Malo, dibenarkan beberapa mahasiswa lainnya.
Korban Fredrikus LS Neno Nahak, jelas Malo, sempat terkena panah yang ditempak para pelaku penyerangan. "Saya tidak tahu bagaimana kronologi korban terkena panah. Ketika kami keluar dari kamar, Fredrik sudah dibawa ke RSU Kupang oleh warga. Saat kejadian kami hanya mendengar teriakan korban, aduh," kata Malo.
Disaksikan Pos Kupang di tempat kejadian perkara (TKP), lima unit sepeda motor yang diparkir di depan kamar kos para mahasiswa di Kos Bogenvil, Jalan Suratin, hangus dibakar para pelaku saat kejadian berlangsung.  Sedangkan tiga rumah yang turut dibakar dalam bentrokan itu, yakni Asrama Lohina, dan dua rumah warga milik Umbu Sulung dan Stef, di ruas Jalan Jati Roso, RT 15/ RW06 Kelurahan Oesapa.
Aparat kepolisian dari Polresta Kupang yang dipimpin Kabag Ops Kompol Mohamad Fadris Fangun, S,IK dan Kapolsekta Kelapa Lima, Iptu Hariyo Basuki, melakukan penyisiran ke sejumlah tempat di sekitar TKP, untuk mencari para pelaku.
Dalam penyisiran itu puluhan anak panah dan tiga orang pemuda yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut diamankan polisi. Selain itu, Polresta Kupang juga telah mengamankan belasan pemuda dari kedua pihak yang diduga ikut terlibat dalam bentrokan itu.
Kapolresta Kupang, AKBP Heri Sulistianto, melalui Kasat Reskrim Polresta Kupang, AKP Yeter B Selan, mengaku belum mengetahui persis  motif peristiwa itu. "Kasus ini masih dalam  penyelidikan pihak kepolisian," kata Selan.
Informasi yang dihimpun d i  RSUD Kupang, menyebutkan, mata panah yang ada pinggang kiri Yohannis Bira dan dibetis kiri Umbu Ledo, diangkat tim medis melalui operasi sekitar pukul 15.00 Wita.
Paman korban, Yonas Tau Nahak  ditemui di  Intalasi  Pemulazaran Jenazah (IPJ) RSUD Kupang,menjelaskan, Fredrikus adalah korban salah sasaran dari dua kelompok warga yang sedang bertikai. Di Oesapa Fredrikus  tinggal di asrama Bogenvil. Sebelum terjadi  pertikaian, dia sedang  berada dalam  kamar kos. Saat sekelompok orang masuk dalam kamarnya, Fredrikus hendak lari menyelamatkan diri. Namun saat dia baru keluar dari pintu kamar kosnya, dua anak panah menghujami   tubuhnya. Satu anak panah tertancap di bagian uluhati dan satu  lagi  tertancap di selangkangan paha bagian kanan.
"Kami keluarga meminta aparat kepolisian dan Pemerintah Kota kupang, mengusut tuntas para pelaku pertikaian yang menewaskan anak kami," pinta Yonas.
Yonas mengatakan, Fredrikus anak bungsu dari empat bersaudara .Tiga  orang saudaranya wanita semua. Fredrikus anak dari pasangan Anderias Neno dan  Florentina Bui, warga Kampung Weoe, Kecamatan Weuwiku, Kabupaten Belu. "Jenazah korban   hari ini akan dibawa kampung halamannya,"tutur Yonas.
Wakil Walikota Kupang, Drs. Daniel Hurek, ditemui di IPJ RSUD Kupang mengatakan, seluruh biaya pengobatan dan  perawatan untuk  tiga korban akan ditanggung Pemkot Kupang. "Pemkot Kupang menyiapkan dana  untuk tiga korban," ujarnya.
Ditanya sikap Pemkot Kupang terkait pertikaian dua kelompok mahasiswa, Hurek mengatakan, Pemkot Kupang dan semua jajaran terkait  akan memediasi kembali pertemuan antara dua kelompok mahasiswa tersebut. ''Peristiwa ini terjadi karena adanya kerenggangan  hubungan  persaudaraan sosial antara dua kelompok," ujarnya. (ben/den)
Si Bungsu Itu Telah Pergi
SUASANA di ruang jenazah RSUD Prof. Dr. WZ Johannes-Kupang  yang berukuran sekitar 3 x 6 meter pada Sabtu (6/3/2010) berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Isak tangis silih berganti terdengar dari luar ruang jenazah itu.
Di luar berkumpul keluarga, kenalan, handai tolan,  kerabat dan teman dari Fredrikus LS Neno. Ia adalah salah satu korban pertikaian antara dua kelompok warga di Kelurahan Oesapa.
Kematian  bagi manusia memang  sangat ditakuti, namun jika takdir itu datang tidak seorangpun dapat menahannya. Kematian Fredrikus, sama sekali tidak disangka keluarganya. Sebab, pPutra kelahiran Weo Oe, Kecamatan Wewiku, Kabupaten Belu, 17 November 1986 silam, merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Fredrikus memiliki tiga orang saudar, yakni Ari, Dati dan Ros.
Di ruang IPJ RSUD, jenazah Fredrikus ditempatkan pada tempat tidur kedua. Jenazah Fredrikus dikelilingi keluarga, teman dan kenalannya. Hadir juga Wakil Walikota Kupang, Drs. Daniel Hurek. 
Sementara di dalam ruang  itu, terlihat dua tanta Fredrikus yang tidak henti-hentinya menangis.  Korban mengenakan baju kaos belang dan celana jeans hitam. Fredrikus meninggal dalam bentrokan di Oesapa akibat dua kali terkena panah. Satu pada   paha kiri dan satu panah di bawah dada. "Dia (Fredrikus, Red) adalah satu-satuny anak laki- laki  dari empat bersaudara. Jadi, kami merasa kehilangan dia. Apalagi dia sedang kuliah," ujar Rudiana Bete, tanta dari Fredrikus.
Buah kasih pasangan Adrianus Neno dan Florentina Bui, ini sebagai salah satu tulang punggung keluarga. Karena itu, tutur Rudiana,  keluarga bersepakat menyekolahkan Fredrikus agar kelak bisa menjadi orang. Tujuannya, lanjut Rudiana, agar Fredrikus bisa membantu keluarga dan orang tua.
Sebagai anak laki-laki tunggal, demikian Rudiana, Fredrikus tidak seperti kebanyakan orang  yang dengan statusnya kemudian angkuh dan tidak mau tahu dengan kondisi keluarga. "Fredrikus sebagai tumpuan keluarga selama ini sehingga kami berupaya dia  kuliah. Tetapi, sekarang apa mau dikata, ia sudah pergi tinggalkan kami semua," kata Rudiana.
Maria Tahu Aek, salah satu keluarga korban, mengisahkan, korban selama ini Fredrikus tidak ada masalah dengan siapapun. Karena itu kematian Fredrikus tidak disangka-sangka oleh keluarga. "Fredrikus ini anak laki-laki bungsu dan dia tidak punya masalah dengan siapa-siapa. Kami sangat sedih atas kepergian Fredrikus untuk selama-lamanya," tutur Maria.
Fredrikus adalah mahasiswa FKIP Jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Olahraga, Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang. Saat ini Fredrikus duduk di semester VI.
Tentang keseharian Fredrikus sebagai mahasiswa, beberapa temannya menuturkan, Fredrikus adalah sosok pendiam dan suka membantu teman yang membutuhkan. "Di kampus Fredrikus  kami kenal sebagai orang yang pendiam dan suka menolong. Fredrikus juga tidak suka membuat masalah, apalagi bermasalah dengan orang lain. Kami sangat kaget dengar kematian ini," kata mereka.
Ipar kandung Fredrikus,  Yanto mengatakan, kasus yang menimpa Fredrikus merupakan sesuatu yang pahit baginya. Sebab, korban  dikenal pendiam dan tidak angkuh bisa mendapat musibah tersebut.  "Kami tinggal di Lasiana, sedangkan Fredrikus kos di Jalan Suratim. Kami dapat informasi Fredrikus terkena musibah beberapa saat setelah insiden. Kami masih dapat dia, tapi dalam keadaan kritis," tutur Yanto. (yel)