Tampilkan postingan dengan label Pangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pangan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Juni 2010

Kimia Berat Habisi Suryani dan Empat Anaknya

SELASA, 29 JUNI 2010

Sumber Racun dari Wadah Kue Jagung

Perawat RSUD TC Hillers Maumere merawat salah satu korban keracunan jagung, Selasa (15/6/2010).
MAUMERE, POS KUPANG.Com -- Sumber racun  yang menewaskan Suryani dan empat anaknya dua pekan lalu diduga berasal dari wadah kue jagung, bukan dari bahan makanan itu. Para korban menunjukkan gejala keracunan kimia berat.


"Saya sudah telepon petugas (laboratorim Dinkes NTT di Kupang, Red) dan dijanjikan tiga hari lagi sudah ada hasilnya. Tetapi dari gejala umum yang diperlihatkan semua korban, tampaknya keracunan  kimia berat. Hati dan jantung tidak berfungsi, darah  sampai keluar dari mulut, mata dan telinga.  Dari fakta-fakta  ini saja, jenis racunnya bahan kimia yang berat," kata Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Sikka, dr. Delly S. Pasande kepada FloresStar di ruang kerjanya di Maumere, Senin (28/6/2010).

Dugaan sementara, kata Delly, racun  kimia berat itu berasal dari wadah  yang digunakan korban saat makan kue jagung di rumah mereka di Kampung Gusung Karang, Desa Kojagete, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka 14 Juni 2010 lalu.

"Mungkin wadah yang digunakan itu bekas ditaruh zat kimia  beracun yang kemudian tercampur dengan bahan-bahan yang digunakan membuat kue jagung itu. Tetapi yang pasti kita  tunggu hasil pemeriksaan laboratorium," kata Delly.

Dikatakannya, zat kimia  kadar tinggi yang masuk ke dalam   tubuh kelima korban sangat keras, sehingga merusak ginjal dan hati korban. Fungsi hati meningkat dari kondisi normal.  Itu terlihat dari kecepatan atau jedah waktu setelah makan dan kematian korban.  

Anak bungsu Suryani, Irma meninggal dunia Senin (14/6/2010) sekitar pukul 19.30 Wita di Gusung Karang. Setelah itu kematian korban susul-menyusul sampai Kamis (17/6/2010). Korban terakhir yang meninggal di RSUD TC Hillers Maumere adalah Suryani, ibu empat anak yang membuat kue jagung itu.
Delly menjelaskan, zat kimia   itu menyerang pembuluh darah, sehingga menimbulkan iritasi  terhadap pembuluh kapiler darah. 

"Zat ini toksin (racunnya) kuat sekali. Kalau kadar racunnya kecil, kemungkinan tidak sampai menewaskan korban.  Menurut saya ini termasuk golongan racun kimia berat. Saya sempat datang tengok korban, ada yang kencingnya  mengeluarkan darah," tandas Delly.


Direktur RSUD  TC Hillers Maumere,  dr. Asep Purnama, Sp.PD yang hadir  di ruang kerja Kadiskes Sikka, menambahkan penjelasan  resmi kematian lima korban keracunan di Kojagete masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium kesehatan di Kupang. 

Namun, dari gejala umum menandakan, kelima korban itu mengalami  keracunan berat yang ditandai  tidak berfungsinya  organ-organ tubuh  utama. "Jenis racunnya seperti apa,  harus tunggu hasil  pemeriksaan laboratorium. Lebih pasti dan lebih bisa dipertanggung jawabkan," tandas Asep.


Seperti diberitakan  FloresStar, satu keluarga terdiri dari ibu dan empat anaknya tewas setelah makan kue jagung 14 Juni 2010 lalu. Para korban adalah Suryani (37) dan empat putra-putrinya masing-masing Syahrul (16), Syaiful (12), Salma (13), dan Irma (7). Satu-satunya anggota keluarga itu yang selamat adalah sang ayah, Syamsul. Saat itu Syamsul berada di Mbay, Kabupaten Nagekeo. 

Salma,  putri tertua Syamsul dan Suryani meninggal dunia pada Kamis pagi  (17/6/2010) pukul 06.00 Wita di ruang ICU RSUD TC Hillers Maumere. Berselang delapan jam 40 menit kemudian, tepat pukul 13.40 Wita,  Suryani  menyusul keempat anaknya. Irma meninggal dunia Senin malam (14/6/2010) di kediaman orangtuanya di  Gusung Karang, Desa Kojagete. 
Hari Selasa (15/6/2010), Syahrul  tak mampu lewati masa kritis akhirnya  meninggal di UGD RSUD Maumere.  Pada hari Rabu (16/6/2010), Syaiful, siswa kelas IV SDK Gusung Karang menyusul kakak dan adiknya menghadap Sang Khalik.

Kematian lima warga Kojagete merupakan musibah keracunan yang menguncang warga Sikka. Namun, musibah keracunan paling buruk menewaskan  semua penghuni di dalam satu rumah, pernah terjadi  tiga  tahun silam  di Desa Sampora,  Pulau Sukun.   

Keluarga Nadimu berjumlah tujuh orang terdiri dari ayah, ibu, anak dan mertua  tewas karena makan ikan beracun. Hanya seorang yang selamat saat itu  karena dia tidak makan ikan beracun tersebut.(ius)

Minggu, 27 Juni 2010

Kebiasaan Makan Belalang di Rote (1)

Jumat, 21 Mei 2010
Harum, Gurih, Nikmat...!
 
 
 
POS KUPANG-Warga Desa Daleholu di Rote Selatan membakar belalang untuk dihidangkan kepada pejabat Pemkab Rote Ndao yang berkunjung ke desa itu, Selasa (4/5/2010).





DALAM kitab suci pemeluk agama Kristen ditulis bahwa Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit dan makananya belalang dan madu hutan (Mateus pasal 3 ayat 4). Alkitab menceritrakan tentang kehidupan zaman dulu dimana manusia bisa bertahan hidup hanya dengan makan belalang dan minum madu hutan. Tentu saja kedua jenis makanan tersebut mengandung zat-zat bergizi yang diperlukan tubuh manusia.

Orang Rote pun demikian. Belalang sudah biasa dimakan sejak nenek moyang. Dibakar atau digoreng, belalang terasa gurih. Apalagi "ditemani" segelas dua gelas air gula Rote.
 
Pada hari Selasa, 4 Meo 2010 siang, Wakil Bupati Rote Ndao, Drs. Marthen Luther Saek membawa sejumlah wartawan untuk melihat langsung salah satu kebiasaan warga Rote itu. Ini bukan wisata kuliner, tentu. Sebab, perjalanan kali ini sekaligus untuk memantau pelaksanaan ujian nasional tingkat SD (sekolah dasar) dan meninjau sejumlah proyek bermasalah di Kecamatan Rote Selatan dan Pantai Baru di sepanjang jalur jalan lingkar selatan Rote.

Saat rombongan tiba di Rote Selatan, yaitu di Desa Daleholu, aparat pemerintah setempat sedang memanggang belalang di atas bara api di

rumah Kades setempat, Paulus Bengu. Ada juga  belalang goreng yang siap santap sudah dihidangkan di atas meja.

Tentu bukan demo masak belalang atau pameran menu belalang. Rupanya Wabup Luther Saek sudah "memerintahkan" aparatnya untuk menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan, terutama para wartawan yang ikut dalam rombongan. Bau belalang bakar lumayan menggoda, harum dan gurih.

Wabup  Luther Saek langsung menyantap belalang bakar dan belalang goreng yang dihidangkan. Warnanya cukup menggoda, kuning seperti udang saat dibakar atau digoreng. Begitu masuk mulut dan dikunyah, lumayan renyah dan rasanya gurih. Nikmat.

Camat Rote Selatan, Arkhilaus Lenggu, S.Pd dan Kades Paulus Benggu pun mengikuti "jejak bosnya". Langsung "sikat" belalang yang dihidangkan. Para wartawan pun langsung mencicipi hidangan unik itu.

"Saya sudah biasa makan belalng sejak kecil, jadi saya nikmati saja. Sebenarnya ini potensi budaya Rote Ndao yang seharusnya dilestarikan dan dipromosikan karena tidak semua orang di Propinsi NTT ini makan

belalang. Belalang tidak racun dan dagingnya enak. Dalam alkitab juga disebutkan kalau Yohanes Pembaptis itu makan belalang dan minum madu hutan. Jadi kita ini sama seperti orang Israel juga," kata Wabup Saek sambil tersenyum.

Sejauh ini riwayat mengenai orang Rote atau orang di daerah lain di NTT yang biasa makan belalang itu, belum pernah dikaji dari sisi ilmu pengetahuan. Satu hal yang pasti yaitu bahwa belalang, hama tanaman pertanian yang kerap mencemaskan, merepotkan sampai mengancam ketahanan pangan warga itu, adalah juga makanan.

Riwayat mengenai orang Rote secara turun temurun mengiris tuak (mengambil nira dari pohon lontar), mengolahnya menjadi minuman bergizi (gula air) atau menjadi gula lempeng yang jadi salah satu bumbu masakan, juga belum ada penelitian serius.

Banyak orang Rote belum merasa "belum makan" kalau belum minum gula air atau tuak manis, hasil sadapan nira lontar yang masih segar. Mereka merasa lebih kuat bertenaga setelah minum tuak manis atau gula air.

Begitu juga ikhwal makan belalang. Salah satu jenis serangga ini pada musim-musim tertentu populasinya meningkat. Saat itulah "pesta" makan belalang pun tiba. Biasanya menjelang musim tanam atau pasca-panen. Lumayan dijadikan teman makan nasi saat lauk ikan sedang paceklik.

Konon, budaya makan belalang ini ada kaitannya dengan sejarah asal-usul orang Rote. Alkisah, pada jaman dahulu kala nenek-moyang orang Rote memiliki dua orang anak dan oleh orangtuanya, kedua anak itu di bagi wilayah kekuasaannya yakni wilayah timur Rote dan wilayah Barat Rote. Anak yang menguasai wilayah barat Rote dikutuk orang tuanya untuk menggantungkan hidup dengan memakan biji-bijian dan atau buah pandan.

Sedangkan anak yang menguasai wilayah timur Pulau Rote harus makan belalang untuk mempertahankan hidup. Itulah sebabnya, hanya warga Rote

Ndao yang bermukim di wilayah timur Pulau Rote yakni di wilayah Kecamatan Rote Timur, Kecamatan Pantai Baru, sebagian Kecamatan Rote Tengah dan sebagian kecamatan Rote Selatan, sampai saat ini, mempunyai tradisi makan belalang itu. Sedangkan warga di wilayah barat Pulau Rote tidak memakan belalang.

"Mungkin juga seperti itu sejarahnya tapi saya belum bisa pastikan cerita itu. Tapi yang pasti, sejak saya kecil saya sudah makan belalang dan enak rasanya kalau belalang itu dimakan dengan gula air," kata Wabup Saek.

Dia mengatakan bahwa budaya makan belalang ini tidak ada hubungannya dengan gagal panen dan ancaman rawan pangan yang terjadi di Propinsi NTT termasuk di Rote Ndao. Karena budaya makan belalang terjadi sejak dahulu kala. Hasil panen baik atau buruk, orang Rote tetap makan belalang.

Kades Paulus Bengu dan Camat Arkhilaus  Lenggu juga membenarkannya. Menangkap dan memakan belalang memang menjadi tradisi di sebagian wilayah Kabupaten Rote Ndao. (maksi marho)
Sabtu, 22 Mei 2010 | 10:25 WIB
Kebiasaan Makan Belalang (2)
Tangkap Belalang sambil Pacaran
 
 
 
POS KUPANG-Belalang hasil tangkapan warga Kelurahan Olafolihaa, Kecamatan Pantai Baru, Selasa (4/5/2010) siang.








UNTUK dimakan, belalang yang ditangkap cukup dipanggang di atas bara api atau digoreng. Jenis belalang yang dapat dimakan bermacam-macam. Mulai dari belalang kecil, sedang hingga belalang jenis besar, baik belalang muda maupun belalang yang sudah dewasa atau tua.
Dalam bahasa daerah setempat (bahasa Rote) belalang yang dapat dimakan biasa dikenal dengan sebutan lamahole, lamambo, doko-doko, songgilo dan lamahade (belalang muda yang belum tumbuh sayapnya). Selain itu ada juga

belalang yang disebut bokuk (belum ada sayap dan hanya melompat-lompat), lamafit (belalang muda yang sudah ada sayap) dan lamapeak (belalang dewasa).

Hal ini sesuai cerita beberapa warga Desa Daleholu, Kecamatan Rote Selatan, diantaranya Yusak Paulus dan Kepala Desa Daleholu, Paulus Bengu serta Camat Rote Selatan, Arkhilaus Lenggu,S.Pd.

Erifous Toudua dan beberapa temannya, dari Dusun Lelebe, Kelurahan Olefoliha'a, Kecamatan Pantai Baru, juga berceritra tentang itu.

Pada musim belalang, yakni sebelum musim tanam dan pasca panen, warga Desa Daleholu di Kecamatan Rote Selatan mencari sejauh enam kilometer dari desanya. Mereka mencari di kompleks persawahan Kapasiok. Hal ini karena populasi belalang biasanya  banyak di

kompleks persawahan atau di padang rumput. Pada musim panen atau selesai panen seperti sekarang ini populasi belalang meningkat dan menjadi waktu yang tepat bagi warga untuk menangkap belalang sebagai lauk.

Penangkapan belalang bisa dilakukan pada siang hari dan juga pada malam hari. Tetapi lebih mudah menangkap belalang pada malam hari karena saat itu belalang sedang tidur pulas sambil bergantungan di

daun-daun rumput atau padi. Dengan menggunakan obor, senter atau lampu pelita, warga dengan mudah menangkap belalang yang sedang tertidur menempel di daun rerumputan atau pohon-pohon perdu. Sedangkan kalau pada siang hari, warga berburu belalang dengan memukulnya menggunakan ranting kayu.

Untuk menangkap belalang pada malam hari, biasanya warga pergi bergerombol beberapa orang dan tidak berjalan sendiri-sendiri. Penangkapan dilakukan secara beramai-ramai baik laki-laki maupun perempuan dengan masing-masing membawa tas plastik atau tempat

penampung lainnya. Hanya saja, menangkap belalang pada malam hari kadang beresiko digigit ular karena warga harus masuk ke rumput-rumputan hanya dengan bermodalkan nyala senter atau obor.

Ada yang menarik pula dari cerita menangkap belalang pada malam hari. Tidak sedikit pula muda-mudi yang memanfaatkan moment menangkap belalang untuk berpacaran. Apalagi kalau menangkap belalang pada malam hari saat bulan terang atau bulan purnama. Saat warga lain berpencar dan asyik menangkap belalang, sepasang sejoli biasanya mencari tempat yang aman untuk berduaan.  Bahkan ada gadis sampai hamil pada musim tangkap belalang seperti ini.

"Biasanya kami pergi tangkap belalang ramai-ramai dan saat kita asyik menangkap belalang, muda-mudi yang sudah saling suka akan menghilang. Lampu obor atau senter yang mereka bawa akan padam, terus kita panggil-panggil tapi tidak ada jawaban lagi. Memang lucu juga tetapi sudah banyak yang jadi suami istri berawal dari pacaran saat tangkap belalang malam hari," kisah Erifous Toudua, warga Dusun Lelebe,

Kelurafaan Olafoliha'a, Kecamatan Pantai Baru sambil terkekeh.

Itulah indahnya dan seninya menangkap belalang pada malam hari di Rote Ndao. Bisa digigit ular, bisa juga mendapatkan kekasih. Apalagi kalau semua anggota rombongan sudah pada mengerti tentang pasangan- pasangan yang sedang menjalin asmara. Justeru saat di hutan mencari belalang itulah, rombongan bahkan memberi peluang bagi mereka untuk bebas memadu kasih.

Belalang yang telah ditangkap, setelah kembali ke rumah, dicabut sayap-sayapnya dan jari-jarinya. Bisa langsung dibakar atau direbus dulu dengan air sampai matang kemudian digoreng lagi. Bisa juga dicampur dengan gula air kemudian dimakan.

Usus belalang tidak dibuang saat dibakar atau digoreng karena orang Rote beranggapan belalang bukan binatang yang kotor.

Wakil Bupati Rote Ndao, Drs Marthen Luther Saek mengatakan, budaya memakan belalang ini merupakan potensi budaya yang bisa dijadikan potensi pariwisata. Alasannya, belalang di Kabupaten Rote Ndao

memiliki kekhasan dibandingkan belalang di daerah lain. Apalagi di NTT hanya warga Rote Ndao yang memakan belalang sebagai lauk.

"Budaya makan belalang ini harus dipromosikan sebagai potensi pariwisata budaya. Kalau ditempat lain orang makan belalang karena senang-senang atau belalang dianggap hama tanaman tetapi di Rote Ndao

makan belalang adalah kebudayaan. Kalau belalang mau jadi hama tanaman maka manusia akan memakan habis belalang-belalang itu," kata Saek sambil tertawa.

Mungkin sebagaian warga NTT merasa sulit untuk makan belalang tetapi itulah kenyataan di Kabupaten Rote Ndao. Bila ada yang ingin mencoba bisa saja datang ke Rote Ndao.

Sejauh ini belum ada penelitian tentang kandungan gizi dalam daging belalang yang biasa dimakan oleh orang Rote. Yang jelas belalang tidak harus ditakuti karena hama tanaman tetapi juga sebagai "teman" makan masih. Apalagi diolesi sambal pedas lemon asam. Rasanya menggoda. (maksi marho)

Minggu, 20 Juni 2010

Korban Kue Jagung Bertambah

Kamis, 17 Juni 2010
POS KUPANG/EUGENIUS MOA
Perawat RSUD TC Hillers Maumere merawat salah satu korban keracunan jagung, Selasa (15/6/2010)
 
MAUMERE, POS KUPANG.Com  -- Korban tewas akibat keracunan kue jagung di Gusung Karang, Desa Kojagete, Pulau Kojadoi, Sikka bertambah satu orang. Korban ketiga adalah Syaiful (12). Syaiful meninggal dunia Rabu (16/6/2010) pukul 09.45 Wita di RSUD TC Hillers Maumere.

Kepergian Syaiful menyusul  adiknya Irma (7) yang meninggal dunia, Senin (14/6/2010) malam di Gusung Karang, Desa Kojagete dan kakaknya Syahrul yang meninggal dunia, Selasa (15/6/2010)  siang di RSUD TC Hillers.

Kemarin siang, jenazah Syaiful dibawa dengan  perahu motor menuju  Kojagete untuk dimakamkan berdampingan dengan adiknya Irma yang  telah  dimakamkan pada Selasa siang. Sedangkan kakaknya Syahrul dimakamkan di pemakaman umum  Islam di Waipare, Selasa (15/6/2010) pukul 22.00 Wita.    Kepergian ketiga kakak beradik menciptakan kesedihan  mendalam bagi ayah mereka  Syamsul (43) dan sanak keluarga.

Syamsul berharap istrinya, Suryani (32) dan putri pertama atau anak kedua  dari empat bersaudara, Salma (13) bisa segera pulih. Sampai kemarin kondisi Suryani dan Salma masih kritis.

Keterangan dihimpun di RSUD TC Hillers, Rabu pagi menyebutkan, kondisi Syaiful semakin turun Selasa malam. Tim medis sudah berupaya maksimal, namun tak berhasil menyelamatkan  Syaiful. Paman korban,  Idiman (43)  melukiskan musibah ini sangat mengerikan. Tiga kakak adik meninggal dalam jeda waktu tak lama.  Dia tak pernah bayangkan kue  jagung pulut  yang disebut warga setempat tapilangi  menjadi sumber malapetaka.

Kondisi Suryani dan  anaknya Salma yang kritis akhirnya dipindahkan  dari ruang perawatan di UGD ke  kamar ICU. "Tadi malam mereka pindah ke sana," ujar Idiman, kemarin.
Idiman heran tapilangi yang sering dikonsumi menjadi  beracun  dan merenggut tiga nyawa. Selama ini masyarakat di Kojadoi selalu makan tapilangi yang merupakan makanan tradisional warisan nenek moyang. "Mereka tidak pernah keracunan. Kenapa keluarga saya makan dan mati," keluh Idiman.

Dia menampik kemungkinan ada unsur kesengajaan dari oknum tertentu terhadap keluarga Syamsul.  Selama ini hubungan keluarga Syamsul dengan kerabat dan keluarganya baik-baik saja. "Mereka tidak cekcok," kata Idiman.

Syamsudin, kerabat Syamsul menambahkan, kondisi Syaiful terus menurun sejak Selasa malam.  Anak ketiga pasangan Syamsul dan Suryani ini meninggal, Rabu pukul 09.45 Wita.
Syamsudin menambahkan, kondisi Suryani dan Salma pun  turun drastis pada Selasa malam.

Oleh karena itu minta  kepada paramedis agar kedua pasien tersebut dipindahkan dari ruang perawatan UGD  ke  ICU.  Salma dilukiskannya lebih bugar dari ibunya dan Syaiful pada Selasa siang. Namun, pada malam  hari kondisinya menurun sehingga dipasangi infus dan tabung oksigen. (ius)

Selasa, 15 Juni 2010

Kue Jagung Renggut Dua Nyawa

Rabu, 16 Juni 2010
 
MAUMERE, POS KUPANG. com  -- Keracunan kue jagung pulut merenggut dua nyawa warga Gusung Karang, Desa Kojagete, Pulau Kojadoi,  Kecamatan  Alok Timur, Sikka, Senin dan Selasa (15/6/2010). Dua korban adalah kakak beradik, Syahrul (17) dan Irma (7). Keduanya tewas setelah makan kue jagung bikinan ibu mereka, Suryani (32). Suryani dan dua anaknya yang lain kini dalam kondisi kritis dan dirawat di RSUD TC Hillers-Maumere.

Suryani  dan keempat anaknya mengalami keracunan usai makan kue jagung, Senin (14/6/2010) pagi. Setelah pusing dan muntah-muntah, putri bungsu Suryani, Irma (7) tewas  Senin  pukul 19.30 Wita. Sehari kemudian putra sulungnya, Syahrul (17) meregang nyawa di UGD RSUD TC Hillers Maumere, Selasa  (15/6/2010) pukul 14.20 Wita. Suryani dan dua anaknya yang lain, Syaiful (10) dan Salma (15) kini masih menjalani perawatan intensif di RSUD TC Hillers Maumere.

Tragedi keluarga Suryani dan empat anaknya sungguh mengguncang perasaan warga Gusung Karang. Seluruh warga ketakutan. Mereka teringat kembali kasus keracunan makanan delapan tahun silam yang menewaskan sepuluh orang.

Ketika tersiar kabar Syahrul meninggal dunia di RSU TC Hillers Maumere, Selasa siang, warga Gusung Karang menangis. Seluruh kampung itu  diselimuti suasana duka. Kepala Satuan  Reserse dan Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Sikka, AKP Samuel Sumihar Simbolon, S.H yang memimpin penyidikan  di lokasi kejadian melukiskan suasana duka di desa tersebut.

"Hampir semua orang sekampung menangis. Mereka  membayangkan sesuatu yang sangat jelek," kata Samuel yang menghubungi Pos Kupang dari Kojagete, Selasa (15/6/2010).

Kasat  Serse memimpin tim  berangkat ke Kojagete  menyelidiki  kematian Irma. Ketika  tim  tiba di Talibura, empat korban  lainnya dirujuk ke RSUD TC Hillers Maumere

Hardin, kakak kandung Suryani menuturkan, Senin  (14/6/2010) pagi,  Suryani menumbuk jagung  pulut  hasil  kebunnya  dijadikan tepung. Tepung jagung  itu  dibuat kue jagung yang selama  ini  biasa disajikan buat anak-anak dan suaminya.  Tepung jagung dijadikan adonan lalu dimasukkan ke dalam air mendidih.

Setelah matang, kata Hardin, kue jagung diolesi  kelapa parut dan gula pasir lalu dimakan Suryani dan keempat anaknya. Usai makan, lanjut Hardin, Suryani berangkat ke kebun. Suami Suryani, Syamsul sejak beberapa hari  lalu berada di Mbay,  Ibukota Kabupaten Nagekeo untuk melakukan dakwah.

Sekitar pukul 09.00 Wita, Suryani kembali dari kebun. Ibu empat anak ini mengalami pusing kepala. Dia  mendapati  putrinya Irma (7) pusing dan muntah. Selanjutnya Irma diberi berbagai obat seadanya di kampung. Namun, kondisinya semakin parah.  Murid  kelas I SD Inpres Kojagete itu meninggal Senin malam di Gusung Karang.

"Kemungkinan racunnya sangat berat, korban muntah banyak sekali sampai akhirnya meninggal," kata  Hardin kepada FloresStar di sela-sela menjaga adik dan keponakannya di ruang Unit Gawat Darurat  (UGD) RSUD TC Hillers, Maumere, Selasa (15/6/2010).

Hardin menambahkan, pada Senin malam kondisi Suryani dan  tiga anaknya Syahrul (17), Salma (15),  dan Syaiful (10) mendadak buruk. Mereka pusing dan muntah. Semakin malam, kondisi bertambah parah. Hari Selasa  pagi,  mereka bertolak dari kampung dengan perahu motor  menuju Talibura. Selanjutnya dari Talibura ke RSUD TC Hillres dengan mobil ambulance.

Hardin  heran, adik kandung dan empat anaknya mengalami keracunan kue jagung. Jenis makanan tradisonal ini telah dikonsumsi sejak nenek moyang dahulu. "Ini makanan tradisional kami. Jagung pulut hasil dari kebun kami sendiri. Pengolahanya juga  tidak berubah-ubah sejak dulu. Saya tidak tahu sumber racunnya dari mana?" kata Hardin.

Kesimpulan sementara tewasnya kakak beradik,  Syahrul  (17), dan Irma (7) karena keracunan makanan. Namun, dokter RSUD TC Hillers Maumere belum  bisa memastikan  apakah racun itu berasal dari kue jagung buatan sendiri atau bahan-bahan campuran lainnya. "Perlu penelitian laboratorium,  specimen sisa makan dan muntah korban  harus diambil," kata dr. Wiwin dari RSUD Maumere, Selasa (15/6/2010). (ius)

Senin, 07 Juni 2010

I ang Mage Waer

Kampoengku Oleh OMDSMY Novemy Leo
Sabtu, 5 September 2009
 
I'ang (ikan), mage (asam) dan waer (air) alias ikan kuah asam ini merupakan salah satu makanan khas tradisional masyarakat di Kaupaten Sikka. Hampir setiap warga di kabupaten ini menjadikan mage waer sebagai makanan favorit.

Mage waer menjadi menu spesial dan paling laris dicicipi tamu saat disajikan dalam acara resmi pemerintahan maupun pesta atau acara keluarga lainnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, I'ang Mage Waer alias Mage Waer hampir selalu tersedia di meja makan rumah-rumah warga di Kabupaten Sikka. Pada sebagian warung makan juga tersedia Mage Waer menjadi salah satu menu yang dijual bersama menu tradisional atau menu modern lainnya.

Bahkan menjadi kebiasaan orang Maumere (sebutan umum untuk warga Kabupaten Sikka), setiap tamu baik dari kabupaten, propinsi atau negara lain yang berkunjung ke wilayah Kabupaten Sikka akan disuguhi Mage Waer dan makanan lokal lainnya.

Mulut dan sikap bisa saja berbohong, namun lidah tidak bisa berbohong. Setelah mencicipi Mage Waer, lidah kita pasti 'kaget' merasakan gurihnya Mage Waer.  Pastinya kata yang segera terucap adalah 'wow...lezat dan nikmat'. Dan, si pencicip -- apalagi yang baru pernah kali merasakannya -- akan  membangkitkan selera makan sehingga tidaklah heran bila mage waer bisa membuat orang selalu tambah makan.

Tak jarang si pencicip akan minta tuan rumah menuliskan resepnya atau malah besok akan kembali datang ke rumah itu untuk minta dibuatkan lagi Mage Waer.
Memang di sejumlah daerah di NTT, menu ikan kuah asam ala Maumere ini ada. Namun meski bumbu dan cara membuatnya sama, namun Mage Waer di Maumere terasa beda.

Mengapa? Jawabannya sederhana. Karena ikan sebagai salah satu bahan Mage Waer itu berasal dari perairan Sikka yang sudah terkenal sebagai penghasil ikan segar dengan kualitas bagus. Apalagi kalau Mage Waer itu menggunakan ikan 'batu'  (ikan kerapuh merah). Sudah pasti yang memakannya tidak akan melupakan bagaimana kelezatan Mage Waer itu seumur hidupnya.

Tidak sulit membuat Mage Waer. Bapa Mus, Mama Yeany, Vera Gayatri dan Olga de Kolaq, keluarga dan sahabat saya di Maumere selalu menyajikan menu Wage Waer kepada saya. Selama saya bertugas di Maumere beberapa tahun, setiap tiga hari sekali, lidah saya dibuat manja dengan kelezatan Mage Waer. Mereka kemudian membagikan resep Mage Waer sebagai oleh-oleh untuk saya bawa pulang ke Kupang.

Terima kasih oleh-oleh yang sangat berharga dari daerah asal ayah saya.
Bumbu dasar Mage Waer yakni mage (asam), somu (bawang merah), hunga (bawang putih), lea (jahe), guni (kunyit), koro (lombok besar), gelo (kemiri), daun kemangi, daun sereh. Juga hingi (garam), i'ang (ikan) dan bumbu instant. Ikan mentah yang digunakan itu bisa ikan apa saja (dianjurkan ikan batu atau ikan merah), baik ikan yang masih utuh atau ikan yang sudah dipotong-potong kecil.

Cara membuatnya, bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, lombok besar,
semuanya dihaluskan. Tambahkan kemiri untuk membuat kuah menjadi kental. Jangan lupa daun sereh untuk membuat harum. Setetah itu, semua bahan tersebut ditumis dengan minyak secukupnya dalam wajan sesuai kebutuhan. Ingat! Nyala api jangan terlalu besar.

Sebelum tumisan bumbu itu kering, langsung tambahkan air asam (air sudah dicampur dengan asam) secukupnya. Lalu biarkan air asam dan bumbu yang ditumis itu mendidih, setelah itu masukkan ikan ke dalam kuah itu.

Biarkan selama 15 menit lalu berikan garam dan masako secukupnya. Kemudian taburi bawang goreng di atas masakan lalu angkat masakan dan taruh pada wadah yang sudah disiapkan. Setelah itu Mage Waer disajikan di meja makan dan siap disantap dengan nasi. Rasanya? Hmm....

Siapa yang mau mencoba I'ang Mage Waer? Bertandatanglah segera ke Maumere, Kabupaten Sikka. Atau kalau tidak sempat, maka cobalah membuat sendiri I'ang Mage Waer di rumah masing-masing. Selamat mencoba. (vemy_leo@yahoo.com)

Oho Ai Mitan

Kampungku Oleh Reddy Ngera
Sabtu, 12 September 2009
 
Beraneka ragam pula umbi yang ditanam, antara lain ada yang berwarna putih, ada juga ubi ubi kayu warna kuning.

Cita rasa setiap tanaman ubi kayu atau dikenal dengan singkong ini juga berbeda sesuai daerah masing-masing karena tergantung dari keadaan struktur  dan tingkat kesuburan di masing-masing daerah.

Misalnya, ubi kayu dari  Kabupaten Ende yang terkenal, yakni ubi nuabosi. Rasa  ubi kayu ini sangat memikat selera karena isinya sangat lembut setelah dimasak.

Dari ubi ubi kayu ini, masyarakat umumnya dapat mengolah menjadi makanan ringan, antara lain seperti kripik ubi, gaplek atau tape. 

Khusus untuk warga Kabupaten Sikka, ubi kayu atau dikenal dengan nama oho ai. Ada proses pengolahan dan penyimpanan ubi ini sehingga berwarna hitam dan masyarakat mengenalnya dengan nama oh ai mitan (ubi kayu hitam).



Cara pengolahannya sangat sederhana.  Umbi ubi kayu, setelah dicabut dari  tanah, kulitnya dikupas, kemudian dibelah  menjadi dua bagian atau  lebih. Hasil belahan itu dijemur selama seminggu.

Setelah kering, umbi ubi kayu dibungkus dengan daun pisang, kemudian dimasukkan dalam keranjang anyaman daun kelapa. Keranjang yang ada ubi kayu ini disimpan di tempat yang  cukup lembab. Setelah seminggu, keranjang dibuka.

Ubi kayu telah berubah warna menjadi hitam ( oho ai mitan) karena telah dipenuhijamur warna hitam. Oho ai mitan kemudian direndam lagi dengan air bersih sekitar empat hari.

Untuk  masyarakat di Kabupaten sikka, khususnya di desa- desa, oho ai mitan direbus atau digoreng. Rasanya sangat lezat. Bila oho ai mitan dimakan dengan  parutan kelapa setengah tua atau dengan  kuah ikan (mage air). (*)

Sumber : Pos Kupang

Cake dan Kue Kering Iwi

Oleh Agus Sape
Sabtu, 26 September 2009
 
Ubi itu oleh orang Sumba Timur disebut Gadung atau Iwi. Di masa lalu Iwi identik dengan kelaparan. Ketika orang Sumba Timur makan Iwi, berarti mereka sudah tidak punya persediaan makanan lagi.

Sempat terjadi kontroversi mengenai anggapan itu. Terutama Pemda Sumba Timur berhadapan pemberitaan media yang melihat Iwi sebagai tanda kelaparan. Menurut Pemda Sumba Timur, mengonsumsi Iwi tidak berarti lapar. Iwi sudah menjadi makanan masyarakat setempat sejak dulu, meskipun mereka masih memiliki persediaan pangan seperti padi dan jagung.

Untuk mengangkat derajat sekaligus menepis anggapan rendah terhadap Iwi, Pemda dan masyarakat Sumba Timur kini mengolah Iwi menjadi sederajat dengan bahan makanan modern.

Di anjungan Kabupaten Sumba Timur itu, Ir. Hartini H. A (Kabid Konsumsi dan Keamanan Pangan pada Badan Bimas Ketahanan Pangan Kabupaten Sumba Timur) berapi-api mempromosikan berbagai jenis makanan lokal Sumba Timur, termasuk Iwi yang menyedot perhatian pengunjung.

Menurut Hartini, Iwi itu aslinya beracun. Tetapi ketika diolah dengan baik, dia menjadi bahan makanan yang berkualitas. Sekadar gambaran, dia membandingkan kandungan gizi Iwi dengan bahan pangan lokal lainnya. Iwi kukus mengandung 6,8 protein, kurang sedikit dari tepung beras yang mengandung 7,0 protein. Dari segi kandungan karbohidrat, Iwi jauh lebih rendah (20,9) dibanding tepung beras (80,0) atau tepung jagung 73,7 atau tepung terigu 77,3. Iwi memiliki kandungan Kalsium lebih besar 26,0 daripada tepung beras 5,0 atau tepung jagung 10,0.

Bagaimana mengolah Iwi agar layak dikonsumsi? Umbi Iwi diiris-iris lalu direndam berhari-hari dalam air. Setelah diperkirakan tidak beracun lagi, irisan-irisan Iwi itu dijemur sampai kering lalu diolah menjadi tepung. Tepung itulah kemudian yang diolah menjadi berbagai jenis kue.

Masyarakat Sumba Timur sudah mengolah tepung Iwi menjadi Cake Zebra Iwi dan Kue Kering Iwi.

Untuk membuat Cake Zebra Iwi, diperlukan tepung Iwi 200 gram, mentega 250 gram, gula 150 gram, telur kuning 6 dan telur putih 2, vanili setengah sendok teh, bumbu spekuk setengah sendok teh, ovalet/TBM satu sendok teh, dan coklat bubuk dua sendok makan.

Cara membuatnya: kocok mentega dengan gula dan ovalet/TBM sampai putih lalu masukkan telur satu persatu. Selanjutnya, kocok sampai adonan naik, tambahkan tepung Iwi sedikit demi sedikit sampai habis, tambahkan vanili dan bumbu spekuk. Lalu, bagi adonan menjadi dua bagian, bagian yang lain diberi coklat bubuk. Siapkan loyang bulat dengan diameter 22 cm, olesi dengan mentega. Masukkan adonan silih berganti sampai adonan habis lalu masukkan ke dalam oven yang sudah dipanasi lebih dulu (120 derajat Celcius). Setelah 10 menit, adonan ditabur dengan kenari atau kismis. Setelah dingin Cake Zebra Iwi siap disajikan.

Inovasi lain dari Iwi adalah Kue Kering Iwi. Bahan-bahannya: tepung Iwi 0,5 kg, gula halus 250 gram, mentega 300 gram, kuning telur empat butir, vanili 0,5 sendok teh, dan maizena dua sendok makan.

Cara membuatnya: kocok mentega dan telur selama sekitar 10 menit lalu masukkan kuning telur satu-persatu dan kocok sebentar. Masukkan vanili dan tepung maizena. Masukkan tepung sedikit demi sedikit sampai kalis/dapat dipulung/dicetak. Selanjutnya, masukkan ke dalam oven sampai panas 180 derajat Celcius.

Pemda Sumba Timur sudah menyiapkan ratusan brosur tentang pengolahan Iwi. Brosur-brosur itu dibagi gratis kepada setiap pengunjung anjungan Sumba Timur.

Bukan hanya brosur, Pemda Sumba Timur juga menyediakan contoh tepung Iwi dan kue-kue yang terbuat dari tepung Iwi. Setiap pengunjung pun boleh mencicipi kue-kue itu secara gratis.

"Supaya percaya, silakan cicipi kue dari Iwi. Enak kan? Ini hasil kreasi kami dari Sumba Timur. Gubernur pun sudah mencicipnya tadi dan mengagumi kue-kue ini," ujar Hartini bersemangat.
Kue Iwi produksi Sumba Timur memang luar biasa. Tampang  dan cita rasanya sama dengan kue tar yang terbuat dari tepung terigu. Kalau begitu, buat apa susah-susah beli tepung terigu, pakai saja tepung Iwi.

Menurut Hartini, di Sumba Timur Iwi tidak lagi sekadar umbi hutan. Iwi sudah dibudidayakan di kebun-kebun warga. Mereka akan menggalinya setelah mencapai ukuran yang sudah matang dan siap untuk dikonsumsi.

Melihat tampang Iwi dari Sumba Timur, saya jadi ingat, jangan- jangan ini umbi yang oleh orang Manggarai disebut Raut. Di kampung Timbang, Kecamatan Cibal, dulu banyak sekali Raut. Meskipun kampung itu menghasilkan banyak padi dan jagung, raut juga menjadi pilihan konsumsi mereka. Hanya waktu itu pengolahannya belum seperti Iwi di Sumba Timur saat ini.*

Sumber : Pos Kupang

Manggulu, Penganan Khas Sumba yang Mulai Tergeser

Oleh Adiana Ahdmad
Sabtu, 23 Januari 2010

Ukurannya kecil dan bentuknya mirip dodol.  Makanan khas ini sudah jarang ditemui di Sumba Timur.

Hanya di beberapa wilayah yang masyarakatnya masih membuat produk tersebut. Itu pun hanya pada waktu-waktu tertentu dan dalam jumlah tertentu. 

Dalam kemasan aslinya, Manggulu dibungkus dengan daun pisang kering. Bagi orang Sumba, daun pisang kering memiliki nilai pengawet. Namun belakangan daun pisang mulai diganti dengan kemasan modern seperti plastik.

Manggulu saat ini memang masih ada. Namun keberadaannya mulai tergeser oleh penganan dari luar. Selain karena  produksinya terbatas, perubahan gaya hidup masyarakat Sumba turut berpengaruh terhadap eksistensi dari produk tersebut.  Keterbatasan produksi disebabkan oleh proses pembuatannya yang cukup memakan waktu.

Caranya, pisang kapok masak harus dikeringkan dahulu, kacang tanah goreng dikeluarkan kulit arinya. Kacang tanah kemudian ditumbuk. Demikian juga pisang masak kering. Setelah kedua bahan ini halus, dicampur lalu dibentuk.

Kalau cara tradisional, pembentukan dengan menggunakan tangan. Namun belakangan pencampuran dan  pembentukan bisa menggunakan mesin penggiling.

Manggulu saat ini memang  masih ditemukan di wilayah-wilayah  tertentu di Sumba Timur, seperti di Nggongi, Kahunga Eti. Di Kota Waingapu juga ada kelompok-kelompok binaan Badan Bimas Ketahanan Pangan yang masih membuat Manggulu. Namun produksinya tidak banyak. Karena itu, Manggulu jarang ditemukan di toko-toko kue. Kalaupun ada, jumlahnya sangat sedikit. Itupun jarang laku terjual karena Manggulu seakan tenggelam di antara penganan dari luar.

Hartini dari Badan Bimas Ketahanan Pangan Kabupaten Sumba Timur adalah orang yang masih konsisten untuk mempertahankan produk khas Sumba Timur ini. Melalui kelompok binaannya, Hartini mencoba untuk mengembangkan kembali penganan ini dan bertekad untuk menempatkan Manggulu menjadi tuan di negeri sendiri.

Sumba Timur  sebenarnya kaya akan penganan lokal. Namun gaungnya kalah dengan penganan dari luar. Selain kemasan dan tampilan yang lebih menarik, pergeseran pola hidup masyarakat di daerah itu turut berpengaruh terhadap eksistensi penganan lokal.

Masyarakat Sumba Timur lebih berkelas jika menenteng donat atau roti daripada Manggulu. Selain itu, promosi dan pencitraan pangan lokal yang masih terbatas membuat penganan ini tidak banyak dilirik oleh masyarakat Sumba Timur. Manggulu belum terkenal seperti kacang Sumba.

Jangankan untuk masyarakat luar, generasi Sumba saja bahkan sudah ada yang tidak mengenal Manggulu. Padahal kalau diperkenalkan terus-menerus, Manggulu bisa menjadi penganan yang diminati banyak orang karena rasanya khas.(*)

Sumber : Pos Kupang

Maek, Si Gatal yang Jadi Penyelamat

Kampungku Oleh Marten Lau
Sabtu, 15 Mei 2010
 
MASYARAKAT tradisional di NTT tidak akan mati kelaparan menghadapi masa-masa sulit seperti gagal panen karena serangan hama/penyakit,  atau akibat bencana alam lainnya.

Mengapa? Sebab, setiap daerah kaya akan bahan makanan cadangan non makanan pokok (jagung, padi dan kacangan- kacangan). Makanan cadangan yang dimaksud adalah yang tidak ditanam di kebun atau sawah, tetapi tersedia atau bertumbuh subur, atau tumbuh liar di hutan-hutan. Namun dijamin bisa jadi penopang makanan alternatif yang tahan lama di saat musim kelaparan. Banya  daun-daunan hingga umbi-umbian di hutan dapat diolah menjadi bahan makanan alternatif yang sudah pasti berguna untuk tubuh.

Salah satu makanan alternatif yang dikenal masyarakat Belu adalah maek.  Maek adalah salah satu jenis ubi hutan. Jenis ubi ini biasa menjadi penyelamat masyarakat di pelosok-pelosok desa  saat tertimpa kelaparan akibat gagal panen atau akibat bencana alam.

Masyarakat Belu baru dikatakan kesulitan makanan/pangan, atau disebut lapar/kelaparan, bila mereka telah mengonsumsi tiga jenis makanan dari hutan itu yakni ubi maek, akar (sagu yang terbuat dari serbuk batang pohon gewang/tali), dan haan fuik dan kaleik (dua jenis kacang hutan).

Jika tiga jenis makanan dari hutan itu salah satunya belum dihimpun di rumah penduduk desa untuk dikelola menjadi bahan makanan alternatif, maka bisa dikategorikan masyarakat desa yang bersangkutan belum mengalami kesulitan atau kelaparan sampai ke tingkat yang paling parah.

Artinya, meskipun gagal panen padi ladang/sawah dan jagung, tetapi mereka masih mempunyai pangan cadangan yang stoknya sangat cukup di kebun masing-masing berupa kacang-kacangan, ubi kayu, ubi jalar, talas, pisang, dan kelapa.

Atau kesulitan makanan  masih bisa diatasi dengan menjual ternak besar seperti sapi, kerbau, kambing dan babi, serta ternak kecil lainnya berupa unggas.

Ubi maek, atau sering disebut dengan bunga bangkai,  sesungguhnya adalah jenis ubi hutan yang mirip pohon bunga raflesia. Jenis ubi yang satu ini dapat tumbuh subur di mana saja, baik di dataran tinggi maupun dataran rendah. Ciri-ciri khususnya yakni memiliki batang tunggal yang lunak dengan tinggi rata-rata 100 centimeter (cm) sampai 200 cm, memiliki daun dan tangkai daun saling bersambungan berbentuk bundar.

Ukuran umbinya cukup besar, berbentuk bundar, dengan diameter sekitar 25 cm sampai 60 cm.

Tanaman ini memiliki umbi berserat, dan gatal rasanya bila tersentuh kulit tubuh, apalagi lidah manusia. Karena itu disebut maek, artinya ubi hutan yang gatal. Jenis ubi hutan yang gatal atau maek itu baru bisa dipanen atau dikelola menjadi bahan makanan ketika batang dan daunnya mulai menguning.
Bila batang dan daunnya masih kelihatan hijau, itu tanda umbinya belum matang/tua untuk dipanen.

Makanan babi hutan
Maek sebenarnya merupakan makanan kera/monyet dan babi hutan, atau makanan binatang liar. Namun sejak dahulu kala, umbi hutan yang isinya sangat padat itu dikelola nenek moyang orang Belu menjadi bahan makanan yang enak dikonsumsi.
Entah pengetahuan semacam apa yang mereka miliki, tetapi warisan itu kini tetap dipegang masyarakat Belu di pelosok desa.

Misalnya di desa-desa seperti Naekasa, Tukuneno, Naitimu, Silawan, Kecamatan Tasifeto Barat, Kecamatan Rinhat dan sekitarnya. Masyarakat setempat tidak gentar menghadapi musim kelaparan, karena ada harapan stok ubi hutan masih tersedia di hutan seperti maek.

Cara pengelolaan maek memang rumit. Gatalnya sangat mengerikan bila tersentuh kulit tubuh. Tetapi masyarakat setempat mahir mengerjakannya. Berawal dari panen, yakni ubi maek yang telah tua digali dan dikupas kulit luarnya dengan pisau atau parang. Selanjutnya,  diiris tipis 0,5 cm sampai 1 cm, lalu dikeringkan di sinar matahari sekitar 3 - 7 hari hingga menjadi  garing.
Umbi maek yang telah garing itu ditumbuk dalam lesung hingga hancur. Setelah itu ditapis dengan nyiru hingga menghasilkan tepung maek paling halus. Tepung maek tersebut dibasahi dengan air panas matang, kemudian dicampur dengan air asam. Adonan tersebut diaduk dan diganti airnya sampai hilang rasa gatalnya. Selanjutnya adonan maek dikukus hingga matang, dan siap dihidangkan untuk dimakan.*

Sumber : Pos Kupang